MATALAMPUNG.COM, Bandar Lampung – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandarlampung Ichwan Adji Wibowo mengajak warga untuk menyalurkan daging ke daerah yang minim hewan kurban agar distribusi tersebut lebih merata dan menyentuh semua lapisan masyarakat.
Dia mengatakan persoalan pendistribusian daging kurban memang masih menyisakan persoalan, karena terdapat beberapa tempat di kota yang tidak mendapat penyaluran hewan kurban, seperti perdesaan, perkampungan, kawasan pesisir atau wilayah-wilayah tertentu yang minim hewan kurban.
“Semestinya kita semua sudah mulai memikirkan secara bersama, bagaimana pengelolaan kurban di era sekarang harus jauh lebih menyentuh persoalan sosial. Di Bandarlampung saja, ada banyak tempat, kompleks dan perkampungan yang jumlah hewan kurbanya berlimpah, pada saat yang sama ada juga daerah yang minim,” ujarnya kepada awak media matalampung.com, Rabu (04/06/2025).
Ia mengatakan hal ini menjadi persoalan semua pihak, sedangkan ke depan diharapkan ada mekanisme pengelolaan daging kurban yang baik sehingga merata ke seluruh masyarakat di kota ini.
“Tidak dapat dimungkiri bahwa kita juga banyak menjumpai perilaku oknum yang kerap menjadikan momen Hari Raya Kurban untuk menumpuk daging di kulkasnya. Tentu perilaku seperti tidak mencerminkan semangat dan esensi hikmah kurban itu sendiri,” ujarnya.
Oleh karena itu, katanya, penting menjadi renungan bersama untuk menikmati Hari Raya Kurban sebagai bagian perayaan kepasrahan dan ketaatan umat kepada Tuhan, sekaligus kesanggupan berbagi terhadap sesama.
“Mari kita rayakan, Hari Raya Kurban ini untuk peduli terhadap banyak orang lain yang keberadaannya perlu mendapat perhatian, serta perayaan terhadap kemampuan kita untuk lebih welas asih terhadap sesama,” ajak Adjie.
Dia menjelaskan hal tersebut sebagaimana makna Hari Raya Kurban sebagai ibadah yang diwujudkan dalam totalitas ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
“Kurban dimaknai sebagai kesetiaan, ketaatan, kepasrahan terhadap perintah Tuhan. Hari Raya Idul Adha juga disamping sebagai syiar Islam, sekaligus dimaknai sebagai momentum upaya manusia ‘membunuh’ karakter, perilaku, sikap yang serba mengarah pada kesombongan,” ucapnya.
Ia menyebut perilaku sombong membuat manusia berjarak dengan Tuhan.
“Perilaku sombong ini yang kerap menjadikan manusia terus berjarak dengan Tuhannya, kemudian berimplikasi pada perilaku lain, tak peduli terhadap sesama, kikir, bahkan serakah, bangga terhadap harta, pangkat, jabatan dan status sosial, tidak ada empati, tidak welas asih,” tegas Adjie.
Namun, ia bersyukur karena semangat berkurban masyarakat setiap tahun semakin baik dan antusias.
“Tetapi yang harus diingat bahwa berkurban bukanlah untuk saling menyombongkan diri. Karena masih banyak juga kita menyaksikan semangat berkurban itu belum sepenuhnya tercermin sebagai upaya ketunduktaatan sekaligus upaya menundukkan perilaku kesombongan dan ketidakpedulian sosial,” pungkasnya.
